Pada 3 Juni 2026, KH Said Aqil Siroj genap berusia 73 tahun. Sebuah usia yang tidak sekadar menandai perjalanan waktu, tetapi juga merekam jejak panjang pengabdian seorang ulama, intelektual, dan pemimpin yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh pertarungan kepentingan, polarisasi identitas, dan menguatnya kecenderungan saling menegasikan, kehadiran sosok yang mampu menjembatani perbedaan menjadi semakin penting. KH Said Aqil Siroj adalah salah satu di antaranya. Ia tidak hanya dikenal sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama, tetapi juga sebagai suara kebijaksanaan yang terus mengingatkan bahwa Indonesia hanya dapat berdiri kokoh apabila kebangsaan dan kemanusiaan berjalan beriringan.
Banyak orang mengenal beliau sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode. Sebagian mengenalnya sebagai ulama dengan latar belakang keilmuan yang kuat, sementara yang lain mengenalnya sebagai penggagas dan penguat gagasan Islam Nusantara yang kemudian menjadi salah satu identitas penting Islam Indonesia di panggung dunia. Namun, lebih dari semua itu, yang paling menonjol dari perjalanan KH Said adalah konsistensinya dalam menjaga titik temu antara agama, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Bagi KH Said, Nahdlatul Ulama tidak pernah berdiri untuk dirinya sendiri. NU adalah jalan pengabdian untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Karena itu, ketika berbicara tentang Islam, yang muncul bukanlah semangat eksklusivitas, melainkan semangat merangkul. Ketika berbicara tentang kebangsaan, yang muncul bukanlah dominasi satu kelompok atas kelompok lain, melainkan ikhtiar membangun rumah bersama yang mampu menaungi seluruh anak bangsa.
Pandangan tersebut lahir dari keyakinan bahwa Indonesia adalah takdir sejarah yang harus dirawat bersama. Kebinekaan bukan persoalan yang harus diselesaikan, melainkan kenyataan yang harus diterima dan dikelola dengan kebijaksanaan. Dalam berbagai kesempatan, KH Said selalu mengingatkan bahwa Pancasila, NKRI, dan semangat persatuan bukanlah ancaman bagi agama, melainkan ruang bersama yang memungkinkan seluruh warga bangsa menjalankan keyakinannya secara damai, bermartabat, dan saling menghormati.
Di tengah menguatnya berbagai bentuk ekstremitas, baik dalam kehidupan sosial maupun politik, gagasan-gagasan KH Said justru semakin menemukan relevansinya. Ketika sebagian orang sibuk mencari perbedaan, beliau mengajak mencari persamaan. Ketika sebagian orang membangun tembok identitas, beliau membangun jembatan persaudaraan. Ketika sebagian orang menjadikan agama sebagai alat pertentangan, beliau menghadirkannya sebagai sumber kasih sayang, kebijaksanaan, dan peradaban.
Sikap inilah yang membuat pemikiran KH Said melampaui batas-batas organisasi. Gagasan kebangsaannya tidak lahir dari kepentingan politik sesaat, melainkan dari kesadaran bahwa keutuhan Indonesia adalah syarat utama bagi terwujudnya kemaslahatan umat. Karena itu, beliau selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok, tanpa kehilangan kecintaannya kepada Nahdlatul Ulama sebagai rumah pengabdiannya.
Pada sebuah acara Halal Bihalal di Jawa Timur, KH Said Aqil Siroj menyampaikan sebuah pesan yang layak direnungkan bersama. Beliau mengingatkan bahwa politik tidak boleh kehilangan ruh kebangsaan dan kemanusiaannya. Kekuasaan, sejatinya, bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menghadirkan keadilan, menjaga persatuan, dan menyejahterakan rakyat. Di tengah suasana kebangsaan yang sering kali dipenuhi pertarungan kepentingan, pesan itu terdengar seperti suara seorang sesepuh yang sedang mengingatkan anak-anak bangsanya agar tidak tersesat oleh hiruk-pikuk kekuasaan dan melupakan tujuan besar bernegara.
Pesan tersebut sekaligus mencerminkan konsistensi pandangan KH Said selama ini. Baginya, agama, politik, dan kebangsaan tidak boleh dipertentangkan, melainkan harus dipertemukan dalam satu tujuan besar: menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat dan menjaga martabat kemanusiaan. Ketika banyak orang berbicara tentang perebutan kekuasaan, beliau justru mengingatkan tentang tanggung jawab moral kekuasaan. Ketika banyak orang sibuk membela kelompoknya masing-masing, beliau mengajak untuk kembali melihat Indonesia sebagai rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh anak bangsa.
Bagi KH Said, Indonesia adalah rumah bersama yang menjadi ladang mewujudkan pesan Baginda Nabi Muhammad SAW, bahwa sebaik baik manusia adalah mereka yang bisa memberi manfaat keapada manusia yang lainya. Sekaligus menjadi pengabdian seoarang hamba untuk menjalan perintah Sang Khaliq , Alloh SWT, bahwa Islam ditutunkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Komitmen ini menegaskan gagasan beliau terhadap kemanusiaan dan ini merupakan salah satu benang merah yang paling kuat dalam perjalanan intelektual dan sosial KH Said Aqil Siroj. Ia memahami bahwa keberagamaan yang sejati tidak berhenti pada ritual dan simbol, melainkan harus menghadirkan penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu, beliau selalu menempatkan nilai keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan sebagai bagian penting dari kehidupan beragama dan berbangsa.
Dalam pandangan beliau, agama seharusnya menjadi sumber inspirasi untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi. Agama harus menghadirkan harapan bagi mereka yang lemah, perlindungan bagi mereka yang rentan, dan jalan persaudaraan bagi mereka yang berbeda. Karena itulah, perjuangan menjaga Indonesia sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari perjuangan menjaga kemanusiaan itu sendiri.
Pada usia 73 tahun, KH Said Aqil Siroj telah melewati berbagai fase kehidupan: sebagai santri, akademisi, ulama, pemimpin organisasi, hingga tokoh bangsa. Namun di atas semua itu, beliau tetap seorang pembelajar yang meyakini bahwa pengabdian tidak mengenal batas usia. Pengabdian adalah perjalanan panjang untuk menghadirkan manfaat bagi sesama, merawat persatuan, dan menjaga harapan.
Mungkin itulah warisan terbesar yang dapat dipetik dari perjalanan beliau. Bahwa menjadi besar bukanlah soal jabatan, melainkan soal kebermanfaatan. Bahwa menjadi pemimpin bukanlah soal kekuasaan, melainkan soal keteladanan. Dan bahwa mencintai Indonesia bukanlah sekadar slogan, melainkan ikhtiar yang diwujudkan setiap hari melalui kerja, pengabdian, dan keberpihakan kepada kemanusiaan.
Selamat ulang tahun ke-73, KH Said Aqil Siroj.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan usia. Semoga tetap menjadi guru bangsa yang menjaga akal sehat kebangsaan, merawat tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama, serta terus menginspirasi Indonesia dengan pesan-pesan persaudaraan, kebijaksanaan, dan kemanusiaan.
Pada usia 73 tahun, KH Said Aqil Siroj mengajarkan kepada kita bahwa menjaga Indonesia bukanlah pekerjaan sesaat, melainkan ikhtiar yang tak pernah selesai. Ikhtiar merawat persatuan di tengah perbedaan, menegakkan kemanusiaan di tengah berbagai kepentingan, dan menghadirkan harapan di tengah kegelisahan bangsa. Pada situasi seperti saat ini, saya kira NU butuh sosok beliaunya untuk menjaga pengabdian NU keapada bangsa dan kemanusiaan. Karena pada akhirnya, pengabdian kepada Nahdlatul Ulama bermuara pada pengabdian yang lebih besar: menjaga Indonesia sebagai rumah bersama bagi seluruh anak bangsa.





