MAKLUMAT CHENG HOO
Surabaya, 15 Juni 2026
Di tengah riuhnya dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama, kami menyaksikan gejala yang tidak boleh diabaikan. Semakin kuatnya tarik-menarik kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan telah menciptakan kegelisahan di kalangan warga Nahdliyin yang mencintai NU sebagai rumah besar umat dan benteng peradaban.
NU tidak lahir dari hasrat merebut kekuasaan.
NU lahir dari kegelisahan para ulama yang melihat umat membutuhkan penuntun. NU didirikan bukan untuk menjadi alat politik siapa pun, melainkan untuk menjaga agama, merawat bangsa, dan membimbing peradaban.
Karena itu, ketika ruang-ruang organisasi mulai dipenuhi oleh kalkulasi politik, transaksi kepentingan, dan perebutan pengaruh, maka saat itulah NU harus kembali bercermin kepada sejarah kelahirannya.
Seminar dan Focus Group Discussion bertajuk “Mengembalikan Ulama sebagai Navigator NU” yang diselenggarakan di Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Surabaya pada Senin, 15 Juni 2026, dengan pembicara utama Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dan Prof. Dr. KH. Achmad Muhibbin Zuhri, memandang perlu menyampaikan sebuah seruan moral kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama sebagai pilihan jalan peradaban.
Kami menyebut seruan ini sebagai:
MAKLUMAT CHENG HOO
Sebuah panggilan nurani agar Nahdlatul Ulama tidak kehilangan arah sejarahnya.
1.KEMBALIKAN ULAMA KE PUSAT KENDALI ORGANISASI
NU adalah organisasi yang lahir dari rahim ulama. Karena itu ulama tidak boleh direduksi hanya menjadi simbol, penghias panggung, atau pemberi legitimasi keputusan yang telah ditentukan oleh kepentingan lain.
Ulama harus kembali menjadi episentrum pengambilan keputusan.
Keilmuan, kebijaksanaan, keteladanan, dan otoritas moral para ulama harus menjadi kompas utama organisasi.
Jika ulama hanya ditempatkan di pinggir kekuasaan organisasi, maka yang akan mengendalikan arah NU bukan lagi hikmah, melainkan kepentingan.
Dan ketika kepentingan menjadi panglima, kehancuran organisasi hanyalah soal waktu.
2.KHITTAH 1926 BUKAN SEMBILAN KATA, MELAINKAN JALAN PERJUANGAN
Khittah 1926 tidak boleh diperlakukan sebagai slogan seremonial yang dibacakan saat pembukaan acara lalu dilupakan dalam praktik kehidupan organisasi.
Khittah adalah janji sejarah.
Khittah adalah benteng moral.
Khittah adalah garis pembatas yang menjaga NU agar tidak larut dalam pusaran kekuasaan.
Kami mengingatkan bahwa kedekatan yang berlebihan dengan kekuasaan selalu melahirkan ketergantungan. Ketergantungan melahirkan kompromi. Kompromi melahirkan hilangnya keberanian untuk berkata benar.
NU harus kembali menjadi kekuatan moral yang mampu menegur siapa pun yang berkuasa ketika rakyat diabaikan, ketika keadilan dilemahkan, dan ketika suara kebenaran dibungkam.
NU harus berdiri di atas semua golongan dan kepentingan.
Dekat dengan semua, tetapi tidak menjadi milik siapa pun.
3.MENJAGA KESEIMBANGAN ANTARA KEBANGSAAN DAN KEMANDIRIAN
NU memiliki tanggung jawab kebangsaan yang besar.
Namun tanggung jawab kebangsaan tidak boleh berubah menjadi ketergantungan politik.
NU harus tetap menjadi mitra kritis negara.
Mendukung ketika negara berjalan di jalan yang benar.
Mengingatkan ketika negara mulai menjauh dari cita-cita keadilan sosial.
Mengoreksi ketika kekuasaan mulai lupa bahwa kedaulatan sejatinya berada di tangan rakyat.
NU yang terlalu jauh dari negara akan kehilangan pengaruh.
Tetapi NU yang terlalu dekat dengan kekuasaan akan kehilangan kebebasan.
Karena itu titik keseimbangan harus dijaga.
NU harus tetap merdeka.
Sebab hanya organisasi yang merdeka yang mampu menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut.
PERINGATAN SEJARAH
Kami mengingatkan seluruh warga Nahdlatul Ulama bahwa banyak organisasi besar dalam sejarah runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan karena kehilangan kompas moral dari dalam.
Ketika jabatan lebih penting daripada pengabdian.
Ketika kekuasaan lebih penting daripada keteladanan.
Ketika transaksi lebih dominan daripada musyawarah.
Maka sesungguhnya organisasi sedang berjalan menuju kemunduran.
Muktamar NU tidak boleh menjadi arena perebutan kursi.
Muktamar harus menjadi forum peradaban.
Tempat para ulama, intelektual, dan warga Nahdliyin merumuskan arah masa depan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
SERUAN KEPADA WARGA NAHDLIYIN
Kami mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk menjaga marwah organisasi ini.
Menolak segala bentuk praktik yang mencederai nilai-nilai keulamaan.
Menolak intervensi kepentingan yang dapat menggerus independensi organisasi.
Menjadikan Muktamar sebagai momentum mengembalikan NU kepada jati dirinya.
Karena NU yang besar bukanlah NU yang dekat dengan kekuasaan.
NU yang besar adalah NU yang dipercaya umat.
Dan kepercayaan umat hanya akan lahir ketika ulama kembali menjadi navigator perjalanan organisasi.
“Jika ulama kehilangan posisi sebagai penunjuk arah, maka organisasi akan kehilangan tujuan. Tetapi jika ulama kembali memegang kompas peradaban, NU akan tetap menjadi mercusuar bagi umat, bangsa, dan dunia.”
Surabaya, 15 Juni 2026
Forum Seminar dan FGD
Mengembalikan Ulama sebagai Navigator NU
MAKLUMAT CHENG HOO
Sudarsono Rahman






