Jakarta – – Kongres Luar Biasa (KLB) Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang diselenggarakan di Gedung The Tribrata, Jakarta, hari ini menghasilkan keputusan bersejarah: Yenny Wahid terpilih secara sah sebagai Ketua Umum KOWANI periode baru, melalui mekanisme pemungutan suara yang memenuhi kuorum konstitusional dengan dukungan lebih dari dua pertiga anggota aktif organisasi sebagaimana diamanatkan AD/ART.
Terpilihnya Yenny Wahid menandai dimulainya babak baru bagi organisasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia. Bagi Yenny, mandat ketua umum ini bukan sekadar menjadi nahkoda baru bagi organisasi perempuan, tetapi juga bagaimana membawa KOWANI menjadi relevan bagi perempuan Indonesia, terutama di masa KOWANI memasuki abad ke-2 berdiri.
“Ini bukan kemenangan satu orang. Ini kemenangan seluruh perempuan Indonesia yang tidak mau melihat rumah besar mereka runtuh. KOWANI adalah amanah, dan di abad kedua ini, amanah itu akan kami emban dengan lebih kuat, lebih luas, dan lebih inklusi,” ujar Yenny Wahid usai terpilih..
Lima Misi Utama Transformatif KOWANI
Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Yenny Wahid memaparkan lima misi utama yang akan menjadi pilar kerja kepengurusannya ke depan:
- Rekonsiliasi dan Penguatan Organisasi
Kepengurusan baru berkomitmen memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, dan memastikan asas kebersamaan. “Tidak boleh ada yang merasa ditinggalkan. Tidak boleh ada yang merasa tidak didengar,” tegas Yenny.
- Pemberdayaan Ekonomi Perempuan
KOWANI akan bertindak sebagai jembatan strategis yang membuka akses pelatihan, pengembangan kewirausahaan, pemanfaatan teknologi digital, akses pembiayaan, serta perluasan jaringan usaha bagi perempuan di seluruh penjuru Indonesia.
- Perlindungan Perempuan dan Anak
Merespons masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak yang menjadi tantangan besar bangsa, KOWANI akan hadir sebagai kekuatan moral sekaligus mitra taktis. Organisasi akan fokus pada upaya advokasi kebijakan perlindungan, langkah pencegahan yang masif, serta penyediaan sistem pendampingan yang berpihak pada korban.
- Pengembangan Kepemimpinan Perempuan Generasi Baru
KOWANI akan secara aktif mempersiapkan estafet kepemimpinan demi masa depan bangsa. Melalui berbagai program strategis, KOWANI siap menjadi inkubator lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan masa depan yang kompeten, tangguh, dan inklusif dari berbagai latar belakang, usia, serta daerah.
- Memperkuat Peran Indonesia dalam Gerakan Perempuan Dunia
Sebagai organisasi dengan status konsultatif di ECOSOC PBB, KOWANI akan merevitalisasi peran internasionalnya. KOWANI siap kembali membawa suara, gagasan, dan kontribusi aktif perempuan Indonesia dalam diplomasi serta advokasi isu perempuan di panggung global.
Melalui kepemimpinan Yenny Wahid, KOWANI optimistis dapat segera berlari kencang mengembalikan fungsinya sebagai mitra strategis pemerintah, sekaligus menjadi wadah inklusif yang berdampak nyata bagi kemajuan perempuan Indonesia.
Pemulihan Tata Kelola Organisasi
KLB ini diselenggarakan sebagai respons atas rangkaian krisis manajerial dan penyimpangan yang serius karena telah keluar dari koridor AD/ART KOWANI. Sebelum KLB digelar, Kementerian Hukum RI telah mengklarifikasi bahwa komposisi 19 anggota Dewan Pimpinan yang menginisiasi KLB secara legal-formal tetap diakui sah, memberikan landasan konstitusional yang kuat bagi seluruh proses.
Proses pemilihan berlangsung transparan dan partisipatif, dengan seluruh organisasi anggota aktif memiliki hak suara penuh. Yenny Wahid terpilih dengan dukungan lebih dari dua pertiga anggota aktif, melampaui kuorum konstitusional yang disyaratkan dalam Anggaran Dasar Bab V Pasal 13 ayat 6 serta Anggaran Rumah Tangga Bab VI Pasal 16 ayat 8 menjadikan hasil KLB ini sah, mengikat, dan legitimate di mata seluruh anggota KOWANI. Profil Ketua Umum Terpilih
Yenny Wahid bukan nama baru dalam gerakan perempuan Indonesia. Selama dua dekade memimpin Wahid Foundation, ia membuktikan komitmennya melalui kerja nyata di lapangan program Desa Damai yang digagasnya telah menyentuh lebih dari 176.000 perempuan di 31 desa di Pulau Jawa, dan diakui dunia sebagai model implementasi resolusi PBB tentang Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan. Pada 2025, ia menerima Gusi Peace Prize atas dua dekade kontribusinya bagi perempuan Indonesia.
Agenda Pemulihan: Tiga Prioritas Pertama
Sebagai Ketua Umum terpilih, Yenny Wahid menyampaikan tiga prioritas yang akan segera dijalankan:
- Perbaikan tata kelola organisasi — memastikan seluruh mekanisme pengambilan keputusan kembali berjalan sesuai prinsip kolektif kolegial yang diamanatkan AD/ART, dengan transparansi dan akuntabilitas sebagai fondasi utama.
- Sinergi dan kolaborasi lintas generasi — membuka ruang yang lebih luas bagi pihak termasuk generasi muda perempuan Indonesia untuk berkontribusi aktif dalam gerakan
- Mengukuhkan kembali posisi perempuan Indonesia di panggung internasional — termasuk memastikan kembalinya kehadiran dan suara KOWANI di forum Commission on the Status of Women (CSW) PBB pada tahun mendatang, serta memulihkan reputasi organisasi di mata mitra global.
Sebelumnya, KLB ini ditempuh dengan jalan panjang, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tercatat telah memfasilitasi lima kali pertemuan mediasi, yang juga didorong oleh organisasi pendiri KOWANI: Perempuan Taman Siswa, Wanita Katolik RI, dan PP Aisyiyah. Namun ketidakhadiran Ketua Umum sebelumnya dalam seluruh sesi mediasi menyebabkan jalur dialog tidak menemukan titik terang, sehingga KLB menjadi satu-satunya jalan konstitusional yang tersisa.
Dengan terpilihnya Ketua Umum baru secara sah, KOWANI kini melangkah maju, kembali fokus pada fungsi utamanya sebagai mitra strategis pemerintah dalam advokasi kebijakan publik, serta penggerak kemajuan perempuan Indonesia di kancah domestik dan internasional, menuju peringatan satu abad organisasi.




