Tulungagung – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan tiga pesan kepada santri di wilayah setempat untuk memperkuat kontribusi dalam pembangunan bangsa.
Khofifah menekankan pentingnya penguasaan ilmu dan penguatan akhlak, kemandirian serta kreativitas dalam menghadirkan solusi, dan pemeliharaan persatuan serta kecintaan terhadap Tanah Air sebagai bekal santri menghadapi perubahan zaman.
“Ketiganya adalah menjadi pribadi yang unggul dalam ilmu dan kokoh dalam akhlak, mandiri dan kreatif dalam menghadirkan solusi, serta menjaga persatuan dan mencintai Tanah Air,” katanya pada peringatan Hari Santri Nasional 2026 tingkat provinsi di Kabupaten Pacitan, Kamis.
Ia mengatakan santri perlu menguasai ilmu agama sekaligus sains, teknologi, bahasa, dan keterampilan masa depan agar mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur pesantren.
Menurut dia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan seiring dengan kejujuran, kedisiplinan, serta penghormatan kepada guru dan orang tua.
“Menuju Indonesia Emas 2045, kita ingin menyiapkan generasi santri yang unggul, berdaya saing global, dan berkarakter mulia,” ujarnya.
Pesan kedua, lanjut Khofifah, mendorong santri menjadi pribadi mandiri dan kreatif yang mampu memanfaatkan ilmu serta teknologi untuk menghasilkan karya, mengembangkan kewirausahaan, dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia berharap pesantren terus melahirkan ulama, pendidik, ilmuwan, wirausahawan, dan pemimpin yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan ketiga berkaitan dengan penguatan persatuan dan kecintaan terhadap Tanah Air. Khofifah mengajak santri merawat persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan kebangsaan, dan persaudaraan antarmanusia di tengah perbedaan.
Ia mengingatkan bahwa semangat kebangsaan santri memiliki akar sejarah kuat, antara lain melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 untuk menggerakkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Upacara Hari Santri Nasional tingkat Provinsi Jawa Timur tersebut berlangsung di Perguruan Islam Pondok Pesantren at-Tarmasi atau Pondok Tremas, Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
Dia menjelaskan pemilihan Pondok Tremas berkaitan dengan sejarah panjang tradisi keilmuan pesantren tersebut. Berdiri sejak 1830, pesantren itu menjadi tempat lahir Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, ulama yang pernah mengajar di Masjidil Haram dan menghasilkan karya di bidang hadis serta fikih.
Ia menyebut tradisi keilmuan pesantren turut membentuk tokoh-tokoh Islam yang berkontribusi dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan Indonesia.
Untuk memperkuat peran pesantren, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong fasilitasi pengembangan pesantren melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2022 tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren dan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 43 Tahun 2023 sebagai aturan pelaksanaannya.










