Padukan Musik dan Tari, 500 Penari Tampilkan Tari Keroncong Nusantara di Kota Tua Jakarta

JAKARTA— Sebanyak 500 perempuan menampilkan Tari Keroncong Nusantara secara massal di kawasan Kota Tua Jakarta. Pergelaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keroncong melalui perpaduan musik dan tari di ruang publik.

Kegiatan yang digagas Lembaga Irama Nasional Indonesia (LINI) itu mengangkat lagu “Irama Senja (Tari Keroncong Nusantara)” ciptaan Ketua LINI Rudy Octave. Musik tersebut dipadukan dengan gerak tari yang digarap sejumlah seniman dari Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI), yakni Gita Novia Sofyan, Agustina Rochyanti, Aty Widyawaty, Atien Kisam, dan Wahyuni Hazierda Dauly.

Pergelaran di kawasan bersejarah Kota Tua tersebut juga diwarnai penampilan penyanyi keroncong Sundari Soekotjo. Ia membawakan langsung lagu Tari Keroncong Nusantara untuk mengiringi penampilan ratusan penari.

Ketua ASETI Agustina Rochyanti menilai penggabungan musik dan gerak tari dapat menjadi salah satu cara memperluas ruang hidup keroncong di tengah masyarakat.

“Keroncong bukan lagi irama yang hanya bisa didengar dan menjadi latar, tetapi kini dapat ditarikan, dirayakan, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat,” kata Agustina kepada Media, Jakarta, Selasa (15/9).

Menurut LINI, keroncong memiliki sejarah panjang di Batavia dan berkembang melalui proses akulturasi berbagai budaya. Karena itu, pengembangan keroncong tidak hanya berkaitan dengan musik, tetapi juga bagaimana kesenian tersebut dapat terus hadir dalam aktivitas masyarakat.

Pelestarian Keroncong

Rudy Octave mengatakan pelestarian keroncong membutuhkan keterlibatan berbagai kelompok, mulai dari pemerintah, komunitas budaya dan tari, kelompok lansia, hingga generasi muda.

“Dibutuhkan kolaborasi mulai dari pemerintah, komunitas budaya, komunitas tari, komunitas lansia, hingga generasi muda seperti para pelajar SMA dan SMK, untuk memastikan irama keroncong terus bergema,” ujarnya.

LINI berharap Tari Keroncong Nusantara tidak berhenti sebagai pertunjukan, tetapi dapat berkembang sebagai bentuk tari pergaulan yang dikenal masyarakat. Organisasi tersebut juga menargetkan kesenian itu dapat diperkenalkan lebih luas sebagai salah satu identitas budaya Indonesia di tingkat internasional.

Pergelaran tersebut melibatkan sejumlah komunitas dan institusi pendidikan, termasuk komunitas tari dan budaya, kelompok lansia, penyintas kanker, sekolah luar biasa, serta sejumlah SMA dan SMK di Jakarta.

Kegiatan ini mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beserta sejumlah perangkat daerah, serta Dana Indonesiana 2025 pada bidang Pendayagunaan Ruang Publik. LINI menyebut kolaborasi lintas sektor diperlukan agar keroncong tetap berkembang dan memiliki ruang di tengah perubahan selera masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *