NU untuk Siapa? Teguran bagi Elite yang Terlalu Sibuk Memperebutkan Jabatan hingga Lupa Merumuskan GagasanRefleksi Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama

Politik0 Dilihat

Oleh: Sudarsono RahmanWakil Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur dan Ketua PW IPNU Jawa Timur 1988–1992.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Opini – Nahdlatul Ulama tidak dibangun untuk membesarkan seseorang, Nahdlatul Ulama dibangun untuk membesarkan umat, karena itu Jabatan hanyalah Amanah, sedangkan Khidmah adalah Tujuan”.

Setiap menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama, Jutaan Warga Nahdliyin berharap forum tertinggi Organisasi ini menjadi ruang Musyawarah yang melahirkan Gagasan Besar bagi masa depan umat, Muktamar semestinya menjadi tempat berkumpulnya pikiran-pikiran terbaik untuk menjawab tantangan zaman, memperkuat pendidikan, membangun kemandirian ekonomi warga, menyiapkan kader ulama, serta memperkokoh peran NU sebagai penjaga moral bangsa.

Namun menjelang Muktamar kali ini, ruang publik justru lebih banyak dipenuhi perbincangan tentang siapa yang akan memimpin daripada ke mana NU akan dibawa. Peta dukungan, konfigurasi kekuatan, peluang kandidat, dan strategi memenangkan kontestasi lebih sering menjadi bahan diskusi dibandingkan gagasan besar yang akan menentukan arah perjalanan organisasi.

Fenomena ini tidak patut disikapi dengan kemarahan, tetapi juga tidak boleh dianggap biasa, justru karena mencintai Nahdlatul Ulama, Kita memiliki tanggung jawab moral untuk saling mengingatkan ketika orientasi Organisasi mulai bergeser, kritik yang lahir dari rasa memiliki bukanlah ancaman, melainkan bentuk khidmah untuk menjaga marwah Jam’iyah.Karena itu, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan sederhana.

NU untuk siapa … ?Pertanyaan ini bukan ditujukan kepada satu orang atau satu kelompok, Pertanyaan ini ditujukan kepada seluruh warga nahdliyin, sebab sebesar apa pun NU, kekuatannya hanya akan terjaga apabila seluruh warganya tetap setia kepada cita-cita para muassis.

Nahdlatul Ulama tidak didirikan sebagai arena perebutan kekuasaan, NU lahir sebagai jam’iyah yang mengemban Misi Dakwah, Pendidikan, Pelayanan Sosial, dan Pemberdayaan Umat. Para pendirinya tidak mewariskan kursi kekuasaan, melainkan nilai keilmuan, musyawarah, persaudaraan, dan pengabdian.

Dalam tradisi NU, Jabatan bukanlah mahkota kehormatan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.Di sinilah letak kegelisahan kita, ketika pembicaraan tentang Jabatan lebih ramai daripada pembicaraan tentang pengabdian, ada risiko organisasi kehilangan fokus terhadap misi utamanya, padahal tantangan Umat hari ini jauh lebih besar daripada sekadar menentukan siapa yang akan memimpin PBNU lima tahun ke depan.

Persoalan pendidikan, kemiskinan, kesenjangan ekonomi, perlindungan anak, krisis lingkungan, hingga perubahan sosial akibat perkembangan teknologi menunggu jawaban nyata dari organisasi sebesar NU.Karena itu, Muktamar seharusnya menjadi panggung adu gagasan, bukan sekadar adu dukungan, Warga NU berhak mengetahui Visi dan Arah yang ditawarkan setiap calon pemimpin, bagaimana memperkuat Pesantren? Bagaimana membangun ekonomi warga? Bagaimana menyiapkan kader ulama dan intelektual? Bagaimana menjaga independensi moral organisasi di tengah dinamika politik nasional? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya mendominasi ruang publik menjelang Muktamar.

NU ibarat pohon beringin yang besar. Banyak orang mengagumi batangnya yang kokoh, padahal kekuatannya terletak pada akar yang menghunjam ke tanah. Ketua umum hanyalah batang. Akar sesungguhnya adalah jutaan warga nahdliyin: para kiai kampung, guru ngaji, pengurus ranting, pengasuh pesantren, Muslimat, Fatayat, Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, PMII dll serta seluruh mereka yang mengabdi tanpa berharap sorotan.

Selama akar itu kuat, pohon akan tetap tegak, namun bila perhatian hanya tertuju pada batang, sementara akar diabaikan, lambat laun kekuatan pohon akan melemah.Karena itu, teguran ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Teguran ini ditujukan kepada siapa saja yang menerima amanah kepemimpinan di NU, Jabatan tidak boleh menjadi tujuan perjuangan, Jabatan hanyalah sarana untuk memperluas manfaat. Semakin tinggi amanah, semakin besar pula kewajiban untuk melayani, mendengar, dan merangkul seluruh warga.

Menjelang Muktamar, mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan. Bukan lagi semata, “Siapa yang layak menjadi Ketua Umum?” melainkan, “Gagasan apa yang akan dibawa untuk memperkuat khidmah NU kepada umat?” Sebab sejarah tidak hanya mengingat siapa yang memimpin, tetapi lebih menghormati mereka yang meninggalkan manfaat.Esai ini tidak ditulis untuk mengadili siapa pun, Ia adalah undangan untuk bermuhasabah, sebab mencintai Nahdlatul Ulama bukan berarti membiarkan setiap kekurangan berlalu tanpa koreksi.

Sebaliknya, cinta kepada jam’iyah dibuktikan dengan keberanian mengingatkan dengan cara yang baik agar NU tetap menjadi rumah Besar Umat, Penjaga Akhlak, Penggerak Peradaban dan Pelayan Masyarakat.Jika Muktamar hanya melahirkan pemenang, yang bergembira hanyalah mereka yang menang, tetapi jika Muktamar melahirkan gagasan, memperkuat persaudaraan, dan mengembalikan khidmah sebagai orientasi kepemimpinan, maka seluruh Warga Nahdliyin adalah pemenangnya. Sebab pada akhirnya, NU bukan untuk jabatan, NU adalah amanah untuk mengabdi.