Surabaya — Persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi di Jawa Timur perlu dibaca sebagai gejala perubahan sistem kerja dan karakter pencari kerja. Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup dengan memperbanyak lowongan pekerjaan, tetapi harus dilakukan dengan memperbaiki ekosistem kerja yang mempertemukan kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan lapangan kerja.
Ketua DPW Partai Perindo Jawa Timur Ahmad Zazuli mengatakan, persoalan lulusan perguruan tinggi yang belum terserap dunia kerja harus menjadi momentum untuk mengevaluasi hubungan antara pendidikan, kompetensi, kebutuhan dunia usaha dan peluang ekonomi baru.
«“Gejala ini harus kita lihat sebagai gejala perubahan sistem kerja dan perubahan karakter pencari kerja. Yang perlu kita lihat adalah bagaimana terjadi kesesuaian antara kebutuhan pencari kerja dengan lapangan kerja yang tersedia,” ujar Ahmad Zazuli.»
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menunjukkan bahwa pada Februari 2025 TPT Jawa Timur sebesar 3,61 persen. Namun, jika dilihat berdasarkan pendidikan, terdapat persoalan yang lebih spesifik. Lulusan universitas memiliki TPT 5,60 persen, hanya di bawah lulusan SMK yang mencapai 5,87 persen.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari lulusan universitas (D-IV dan S1) di Jawa Timur mencapai 6,04 persen per Februari 2026, yang merupakan kelompok pendidikan dengan tingkat pengangguran tertinggi dibanding jenjang lainnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum otomatis menjadi jaminan terserapnya seseorang dalam dunia kerja.
Pada saat yang sama, BPS mencatat jumlah angkatan kerja Jawa Timur pada Agustus 2025 mencapai 24,76 juta orang, dengan penduduk bekerja sebanyak 23,80 juta orang. TPT Jawa Timur pada periode tersebut turun menjadi 3,88 persen. Namun, struktur pekerjaan juga menunjukkan tantangan tersendiri: sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi salah satu sektor dengan penambahan pekerja terbesar, sementara proporsi pekerja formal Jawa Timur hanya 38,27 persen.
Menurut Ahmad Zazuli, data tersebut perlu dibaca lebih jauh. Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidak ada pekerjaan, tetapi apakah pekerjaan yang tersedia sesuai dengan kompetensi, karakter dan ekspektasi pencari kerja.
Jangan Hanya Mencetak Lulusan, Ciptakan Kesempatan
Perindo Jatim berpandangan bahwa perubahan dunia kerja membutuhkan perubahan paradigma dalam menyiapkan lulusan perguruan tinggi.
Lulusan tidak cukup diposisikan hanya sebagai pencari kerja (job seeker), tetapi perlu diperkuat menjadi pencipta nilai (value creator) dan, jika memungkinkan, menjadi pencipta lapangan kerja (job creator).
“Jangan sampai lulusan hanya menunggu perusahaan membuka lowongan. Kita harus menciptakan kesempatan agar mereka dapat menghasilkan sesuatu, memiliki pasar dan memperoleh pendapatan dari kompetensi yang mereka miliki,” kata Ahmad Zazuli.
Menurutnya, kesempatan tersebut harus diikuti penguatan kompetensi yang sesuai dengan perkembangan ekonomi.
Perindo Jatim mendorong pengembangan pelatihan yang tidak berhenti pada sertifikat, tetapi berorientasi pada kemampuan menghasilkan produk dan pendapatan, antara lain:
- Kompetensi digital
Meliputi digital marketing, pengelolaan media sosial, content creation, teknologi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan. - Kewirausahaan
Membekali lulusan dengan kemampuan membaca peluang, membuat produk, mengelola usaha dan membangun model bisnis. - Ekonomi kreatif dan pekerjaan berbasis proyek
Mendorong lulusan memanfaatkan kompetensinya untuk bekerja secara fleksibel, freelance, jasa profesional maupun ekonomi kreatif. - Kompetensi produktif sesuai kebutuhan pasar
Pelatihan harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata dunia usaha dan perkembangan sektor ekonomi di masing-masing wilayah. - Akses pasar dan pembiayaan
Kompetensi tanpa akses pasar akan sulit menghasilkan pendapatan. Karena itu, pelatihan harus terhubung dengan pemasaran, kemitraan, pembiayaan dan pendampingan.
Dari Job Seeker Menjadi Value Creator
Ahmad Zazuli menegaskan, perubahan paradigma tersebut bukan berarti seluruh sarjana harus menjadi pengusaha.
“Tidak semua orang harus menjadi entrepreneur. Tetapi setiap lulusan harus mampu menciptakan nilai. Ketika bekerja di perusahaan, dia menciptakan nilai bagi perusahaan. Ketika menjadi freelancer, dia menjual kompetensinya. Ketika menjadi pengusaha, dia menciptakan produk dan bahkan membuka pekerjaan bagi orang lain,” jelasnya.
Karena itu, Perindo Jatim mengajak pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, komunitas dan berbagai elemen masyarakat membangun ekosistem kerja baru.
Ekosistem tersebut harus mempertemukan:
Pendidikan → Kompetensi → Kebutuhan Industri → Kesempatan → Pasar → Pendapatan → Produktivitas.
Dengan demikian, keberhasilan penanganan pengangguran tidak hanya diukur dari turunnya angka TPT, tetapi juga dari meningkatnya jumlah anak muda yang produktif, memiliki penghasilan, mampu menciptakan karya dan mempunyai kesempatan untuk berkembang.
Perindo: Beri Kesempatan, Perkuat Kompetensi
Menurut Ahmad Zazuli, kata kunci yang perlu dikembangkan adalah “beri kesempatan dan perkuat kompetensi.”
Kesempatan tanpa kompetensi tidak cukup. Sebaliknya, kompetensi tanpa kesempatan juga tidak akan menghasilkan produktivitas.
«“Berikan mereka kesempatan, perkuat kompetensinya, dampingi prosesnya, bukakan akses pasarnya. Ketika mereka mampu menghasilkan sesuatu dan mendapatkan keuntungan finansial, maka kita bukan hanya mengurangi pengangguran, tetapi sedang membangun manusia yang produktif dan mandiri,” tegas Ahmad Zazuli.»
Perindo Jawa Timur karena itu mendorong agar persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi tidak hanya dipandang sebagai persoalan ketenagakerjaan, tetapi sebagai persoalan ekosistem pembangunan manusia dan ekonomi.
Perguruan tinggi perlu memperkuat keterhubungan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja. Pemerintah perlu membuka akses kesempatan, pasar dan pembiayaan. Dunia usaha perlu terlibat dalam pengembangan kompetensi dan pengalaman kerja. Sementara masyarakat dan organisasi sosial-politik dapat ikut membangun ruang produktif bagi generasi muda.
“Kita tidak boleh hanya bertanya berapa banyak orang yang menganggur. Kita harus bertanya: kompetensi apa yang mereka punya, kesempatan apa yang tersedia, kebutuhan ekonomi apa yang bisa mereka isi, dan bagaimana mereka bisa mendapatkan penghasilan dari kompetensi tersebut,” pungkas Ahmad Zazuli.
Perindo Jatim mengajak seluruh pemangku kepentingan mengubah pendekatan dari sekadar “mencari pekerjaan” menjadi “membangun ekosistem kesempatan kerja dan produktivitas”.
Karena masa depan ketenagakerjaan bukan hanya tentang berapa banyak lowongan yang tersedia, tetapi tentang seberapa banyak manusia diberi kesempatan untuk menjadi produktif, menciptakan nilai, dan memperoleh kehidupan yang layak.







