Surabaya – Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai mengajar langsung siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Surabaya demi memahami tantangan para guru dalam menghadapi karakter peserta didik di era digital.
“Menjadi guru itu tidak mudah seperti yang kita bayangkan. Kita berproses di dalam kelas, bagaimana murid-murid kita bisa tertarik dengan apa yang kita sampaikan dengan mata pelajaran yang diampu,” kata Aries saat mengajar di SMAN 4 Surabaya, Jawa Timur, Selasa.
Aries mengatakan pengalaman mengajar langsung tersebut dilakukan untuk memahami tugas dan fungsi guru sekaligus merasakan suasana pembelajaran dari dalam kelas.
Ia mengatakan karakter peserta didik saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya karena mereka semakin terbiasa menggunakan teknologi untuk memperoleh informasi dan belajar.
“Artinya kalau kita masih mengajar cara konvensional, maka tentu akan ditinggal oleh murid-murid kita,” katanya.
Menurut Aries, guru perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan teknologi agar peserta didik lebih mudah memahami materi sekaligus tujuan pendidikan.
Menurut Aries, pengalaman mengajar secara langsung juga menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru menjadi kebutuhan penting agar tenaga pendidik mampu mengikuti perubahan karakter peserta didik.
“Saya memang selalu menganggap bahwa proses upgrade ini penting. Maka saya berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan menambah lagi porsi untuk meng-upgrade guru-guru kita,” ujarnya.
Aries berharap peningkatan kompetensi dilakukan melalui berbagai forum pelatihan dengan menghadirkan pengajar atau instruktur profesional yang memahami metode pembelajaran yang baik dan dapat diterapkan sesuai kebutuhan peserta didik.
Dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, Aries juga berdialog dengan siswa mengenai metode yang membuat suasana kelas lebih hidup. Para siswa, kata dia, membutuhkan pembelajaran yang interaktif dan visual.
“Generasi Gen Z ini visual. Sehingga apa yang disampaikan Pak Presiden Prabowo untuk dibagikan Interactive Flat Panel (IFP) itu sangat dibutuhkan di lingkungan sekolah supaya mereka bisa menyaksikan secara visual dan mudah dipahami,” ujarnya.
Aries mengatakan penggunaan IFP atau panel datar interaktif juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pembelajaran berbasis teknologi di sekolah.
Menurut dia, setiap sekolah yang sebelumnya memperoleh satu unit IFP akan mendapat tambahan tiga unit sehingga nantinya memiliki empat unit.
“Semua se-Jawa Timur dapat. Namun daerah pedalaman, daerah-daerah yang sulit terjangkau, terutama pulau-pulau, didistribusikan dulu. Nanti yang di dalam kota yang mudah bisa digilir belakangan,” katanya.
Ia menyebut terdapat sekitar 4.020 sekolah yang terdiri atas sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan sekolah luar biasa (SLB) negeri maupun swasta di Jawa Timur.
Dalam kesempatan itu, Aries juga mengajak siswa memahami penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kemampuan menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan mengontrol perilaku.








