Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong generasi muda menjadi penggerak swasembada pangan nasional berkelanjutan melalui penguatan karakter, inovasi, kewirausahaan, dan penelitian untuk memperkuat pertanian Indonesia.
“Keberlanjutan swasembada pangan Indonesia membutuhkan generasi muda yang berkarakter, inovatif, berani berwirausaha, serta mampu menciptakan terobosan baru di bidang pertanian,” kata Mentan terkonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Dia menekankan hal itu saat menghadiri Seminar Nasional Gebyar Ajang Tani Inspiratif (Gantari) 2026 bertajuk “Regenerasi Pemuda sebagai Penggerak Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia” yang digelar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Menurut Amran mahasiswa dan generasi muda tidak harus terpaku pada pilihan menjadi pegawai setelah lulus. Menurutnya, sektor pertanian membuka peluang luas bagi pemuda untuk menjadi pengusaha, akademisi sekaligus inovator.
“Kalau mau sukses, jangan sia-siakan waktu sekarang. Mau jadi pengusaha, birokrat, akademisi, bisa. Yang penting karakter,” ujar Mentan.
Ia menekankan, karakter menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan generasi muda. Karakter tersebut, antara lain, dibangun melalui kejujuran, kedisiplinan, kemauan belajar, kerja keras, dan kegigihan dalam menghadapi tantangan.
“Kalau berkarakter, rajin, kerja keras, insya Allah sukses,” katanya.
Mentan juga mengajak mahasiswa untuk berani melakukan penelitian dan menciptakan inovasi baru. Menurutnya, peluang besar justru terbuka ketika generasi muda mampu masuk ke ruang-ruang yang belum banyak digarap dan menghasilkan solusi yang memberikan manfaat nyata.
Ia mencontohkan pengalamannya melakukan penelitian di bidang pertanian yang membutuhkan waktu panjang dan ketekunan sebelum menghasilkan inovasi. Karena itu, Mentan meminta mahasiswa tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan dalam proses penelitian.
“Jangan mudah menyerah. Manusia itu harus punya mimpi besar. Kalau mau berhasil, big dream, kemudian bertindak dan persistent. Ujungnya sukses,” tegasnya.
Mentan Amran juga memaparkan perkembangan sektor pertanian nasional. Ia menyebut target swasembada pangan yang sebelumnya diproyeksikan dalam empat tahun berhasil dipercepat hanya setahun sehingga Indonesia telah mencapai swasembada beras dalam waktu lebih singkat.
Menurutnya, capaian tersebut juga diperkuat dengan penghargaan internasional yang diterima Indonesia serta peningkatan kesejahteraan petani. Ia menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) telah mencapai 129, yang menurutnya merupakan level tertinggi dalam sejarah Republik Indonesia.
Mentan mengatakan pemerintah juga terus memperkuat ketahanan pangan dengan menyiapkan stok beras untuk menghadapi dinamika iklim, termasuk El Nino dan kekeringan.
“Ini kehidupan harus dipersiapkan. Kita persiapkan satu tahun sebelumnya, dua tahun. Stok kita tertinggi selama Republik ini berdiri,” ujarnya.
Selain menjaga produksi dan stok pangan, pemerintah juga mendorong peningkatan ekspor pertanian dan pengurangan ketergantungan terhadap impor.
Menurut Mentan, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun sektor pertanian yang semakin kuat dan berdaya saing.
Amran menegaskan, keberhasilan pembangunan pertanian tidak dapat dilakukan sendirian. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, petani, dan generasi muda menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan.
“Tidak ada sukses tanpa kolaborasi,” katanya.
Karena itu, Mentan mengajak mahasiswa menjadikan kampus sebagai ruang untuk membangun karakter, memperluas jejaring, melakukan penelitian, dan menciptakan inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat.











