Jakarta – Hari ini, Kamis (1/10/2026), kita mencatat sejarah. Sore ini, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., Kiai Sepuh NU dan intelektual Muslim yang mendunia, dilantik menjadi Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia.
Ini bukan sekadar pelantikan jabatan. Ini adalah kembalinya akal sehat ke lingkar Istana.
Siapa yang tidak kenal Kiai Said?
Dia bukan Kiai panggung. Dia adalah perpustakaan berjalan, hafal kitab kuning, menguasai filsafat Islam klasik hingga modern, dan fasih berbicara tentang kebangsaan di forum-forum dunia.
Yang paling penting, Kiai Said dikenal kritis dan berani.
Di saat banyak orang memilih diam demi aman, Kiai Said memilih bicara. Di saat banyak orang memilih tunduk demi jabatan, Kiai Said memilih tegak lurus menjaga marwah NU dan keindonesiaan.
Karena itu, beliau layak duduk di Dewan Pertimbangan Presiden.
Presiden Prabowo membutuhkan orang seperti ini. Bukan penjilat yang hanya bilang, “Siap Bapak Presiden”, tetapi seorang pemberi nasihat yang berani mengatakan, “Jangan Pak Presiden, itu keliru”, tentu dengan memberikan solusi.
Tugas Wantimpres adalah memberi saran dan pertimbangan yang jujur, bahkan jika saran itu pahit. Dan Kiai Said adalah ahlinya.
Dua periode memimpin PBNU, beliau telah membuktikan mampu menjaga NU tetap besar, tetap moderat, dan tetap berada di tengah.
Tidak terseret ke kanan, tidak terseret ke kiri. Menjadi jangkar Islam rahmatan lil alamin untuk dunia.
Kini, pengalaman itu akan beliau bawa ke Istana.
Ini adalah kebanggaan bagi warga NU. Ini membuktikan bahwa kader terbaik NU selalu dibutuhkan untuk Indonesia.
Bahwa dari pesantren, dari tradisi keilmuan yang dalam, lahir pemikir yang mampu memberi solusi bagi bangsa dan negara.
“Dari NU Untuk Indonesia”.
Kalimat itu hari ini menemukan wujudnya.
Selamat mengabdi, Kiai Said.
Titipkan pesan kami kepada Presiden Prabowo:
“Jagalah Indonesia dengan keberanian ilmu dan kejujuran hati, seperti yang Kiai ajarkan kepada kami selama ini”
Semoga kehadiran Kiai Said di Dewan Pertimbangan Presiden membuat kebijakan negara lebih beradab, lebih berakal, dan lebih berpihak kepada rakyat kecil.










