SURABAYA — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 hendaknya tidak berhenti pada seremoni dan upacara. Momentum ini harus menjadi ruang refleksi bagi seluruh generasi bangsa, terutama anak muda, untuk memahami sejarah, menjaga persatuan, serta memastikan tragedi kemanusiaan dan konflik ideologis masa lalu tidak kembali terjadi.
Ketua DPW Partai Perindo Jawa Timur, Ahmad Zazuli (Cak Jaz), mengatakan bahwa sejarah kelam bangsa Indonesia harus dipelajari secara jernih agar generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan perjalanan bangsanya.
“Kita tidak boleh melupakan sejarah. Tetapi kita juga tidak boleh terjebak dalam kebencian. Yang paling penting adalah mengambil pelajaran agar kekerasan, pengkhianatan terhadap negara, dan konflik ideologi tidak kembali terjadi.”
Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober dan berkaitan dengan peristiwa G30S 1965. Pemerintah menjadikan momentum tersebut sebagai bagian dari peneguhan Pancasila sebagai dasar negara.
Cak Jaz menilai pembelajaran sejarah harus disampaikan kepada generasi muda secara kritis, proporsional dan berbasis fakta. Menurutnya, membicarakan sejarah tidak cukup dengan menghafalkan tanggal dan nama tokoh, tetapi harus mampu menjelaskan konsekuensi ketika kehidupan politik kehilangan ruang dialog dan kemanusiaan.
Jangan sampai generasi muda menjadi apatis
Menurut Cak Jaz, tantangan bangsa saat ini bukan hanya ancaman terhadap ideologi, tetapi juga munculnya apatisme generasi muda terhadap persoalan publik.
“Jangan sampai anak muda merasa politik tidak penting, sejarah tidak penting, dan persoalan bangsa bukan urusan mereka. Justru masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda.”
Ia mengatakan nilai-nilai Pancasila harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari: menghargai perbedaan, menolak kekerasan, berani menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, menghormati hukum, serta peduli terhadap persoalan masyarakat.
Kementerian Pendidikan pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebelumnya juga menekankan pentingnya pendidikan karakter agar generasi muda tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi memiliki karakter yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Cak Jaz juga mengingatkan bahwa pembahasan mengenai 1965 perlu ditempatkan dalam perspektif sejarah dan kemanusiaan. Komnas HAM menyatakan bahwa peristiwa 1965–1966 merupakan salah satu kasus pelanggaran HAM berat yang telah diselidiki, dengan berbagai bentuk kekerasan terhadap warga negara pada periode tersebut.
“Kita harus berani melihat sejarah secara utuh. Ada peristiwa politik, ada kekerasan, ada korban, dan ada luka yang masih menjadi bagian dari ingatan bangsa. Jangan diwariskan kebencian, tetapi wariskan pelajaran.”
Ia menambahkan, penghormatan terhadap Pancasila harus diwujudkan dengan menjaga kemanusiaan, persatuan, demokrasi, keadilan sosial dan penghormatan terhadap hukum.
Cak Jaz menegaskan bahwa generasi muda justru harus memiliki keberanian untuk mengkritik pemerintah ketika menemukan kebijakan yang perlu diperbaiki.
“Menjadi Pancasilais bukan berarti tidak boleh mengkritik pemerintah. Kritik adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Yang penting kritik disampaikan dengan data, etika dan tanggung jawab. Yang berbahaya justru ketika anak muda memilih diam dan tidak peduli terhadap masa depan bangsanya.”
Menurutnya, semangat Hari Kesaktian Pancasila 2026 harus diterjemahkan menjadi gerakan generasi muda yang melek sejarah, melek politik, melek informasi dan aktif menjaga persatuan.
“Jangan biarkan apatisme menjadi budaya. Jangan biarkan sejarah hanya menjadi cerita di buku. Jadikan sejarah sebagai cermin untuk membangun Indonesia yang lebih manusiawi, demokratis dan berkeadilan, Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan. Pancasila harus hidup dalam sikap, tindakan dan keberanian kita menjaga Indonesia.”pungkasnya.









